Pertanian,
di zaman anak muda saat ini, mendengar namanya saja mungkin sudah enggan. Kuno,
jadul, ketinggalan zaman, gak modern, gak gaul, ah udahlah kelaut aja! Ya, tak
bisa dipungkiri memang, bahwasanya pertanian mempunyai arti seperti itu
dikalangan anak muda seperti saya ini. Yang terlintas dalam benak, pertanian
adalah mengenai persawahan, lumpur, padi, cangkul, petani bahkan kotor dan
kumuh. Lalu, apakah salah berpikiran seperti itu?
Tidak
salah, tak ada salahnya mempunyai pemikiran seperti itu. Karena kenyataannya,
pertanian tak lepas dari seorang petani tentunya. Tak jauh dari persawahan,
bertemu dengan lumpur yang bau setiap harinya, bercocok tanam padi salah
satunya, berteman akrab dengan cangkul, dan para petani memang selalu terlihat
kotor bahkan kumuh. Itulah petani.
Tapi
jauh dari semua itu, terdapat beberapa hal yang lebih penting dan berharga.
Tentang tetesan petani ditengah terik sang mentari, tentang keikhlasan dan
ketulusan, tentang kerjakeras tiada henti, tentang keluhan yang tak pernah
tersirat. Jika kita ulas tentang jasa – jasa seorang petani, tentu tak akan
pernah ada akhirnya.
Salah
satu hasil pertanian adalah beras. Beras yang pada hakikatnya adalah makanan
pokok rakyat Indonesia. Tapi, petani tidak harus bercocok tanam padi untuk kita
makan biji beras yang berupa nasi setiap harinya. Banyak sekali hasil – hasil
pertanian yang kita konsumsi dan banyak sekali manfaat dikehidupan sehari – hari.
Seperti buah – buahan, umbi – umbian, tanaman hias, dan masih banyak lagi hasil
pertnaian baik pangan
maupun non pangan. Karena pertanian secara umum adalah semua kegiatan manusia
yang meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan
perikanan. Jadi, alangkah baiknya jika kita membuka mata dan menyadari bahwa
pertanian bukan hanya sekedar sawah, melainkan banyak sekali bentuk – bentuk
pertanian. Diantaranya adalah ladang, perkebunan, tegalan dan bahkan pekarangan
rumah.
Namun
dizaman serba modern seperti sekarang ini, nasib petani seolah tak
diperhatikan. Banyak petani yang miskin, melarat, susah bahkan kelaparan.
Kelaparan? Ya, di pulau Jawa yang
subur dan kaya itu, beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh
penduduknya mati kelaparan, ibu-ibu menjual anak-anak untuk makan, bahkan
ibu-ibu memakan anaknya sendiri. Astaghfirullah
Kita
sebagai generasi muda penerus bangsa, apakah tega membiarkan hal seperti itu
terulang kembali?
Ketidakadilan
dan ketidakberpihakkan pemerintah Indonesia terhadap nasib para petani sungguh
sangat disayangkan. Para petani yang mempunyai jasa – jasa besar terhadap
kehidupan bangsa seolah tak dianggap. Indonesia sebagai daerah agraria dengan
berbagai kekayaan alam yang melimpah tentunya produktivitas sektor pertanian
dapat dijadikan produk unggulan. Tapi sepertinya itu hanya sebuah slogan
semata. Memprihatinkan.
Betapa
tidak, di dalam usulan anggaran pada sektor pertanian yang diajukan Pemda
Rejong Lebong kepada DPRD terhadap Rancangan Anggaran Belanja Daerah (RABD)
tahun 2012 hanya Rp. 81 juta.
Sementara bagi para PNS dan anggota Dewan dalam item anggaran uang makan dan
minum mereka dianggarkan masing – masing Rp. 2,9 M dan Rp. 800 juta pertahun.
Inikah potret keberpihakan pemerintah terhadap para petani Indonesia?
Adakah seorang yang mampu merubah
semua ini? Memperhatikan nasib para petani dan mensejahterakan rakyat Indonesia
dengan kekayaan alam yang begitu melimpah. Dimanakah mereka yang berkuasa?
Hingga
tak ada lagi petani yang miskin, tak ada lagi petani yang melarat, tak ada lagi
kelaparan dan kekurangan gizi. Hanya itulah harapan mereka, rakyat kecil yang
tak dipedulikan. Ditengah kehidupan serba modern, diantara maraknya
globalisasi. Keberpihakan dan keadilan terhadap mereka yang meneteskan keringat
tiada henti, berpayungkan langit biru ditengah terik sang mentari dan diantara
ribuan bahkan jutaan harapan yang kadang tak pasti. Tak perlu menunggu hari
esok! Saat ini dan detik ini. Dengarlah mereka yang berjuang, harapan petani.
Berangkat
dari berbagai daerah, macam suku, budaya dan tradisi. Berkumpul dan
bercengkerama ditengah hirup pikuk kemilau gaya hidup modern. Kami datang
dengan membawa semangat perubahan. Di kampus rakyat, bumi kebanggan Institut
Pertanian Bogor. Generasi berkarya, membawa harapan baru untuk nasib para
petani dan rakyat Indonesia. Menggenggam sebuah mimpi dan misi besar, semangat berprestasi
penuh karya. Kami, untuk Pertanian Indonesia!
Tugas MPKMB 49 :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan santun. Karena pada dasarnya, kita adalah kaum intelektual.