Sabtu, 25 Agustus 2012

Katakan sesuatu tentang ini

Selain minat gue yang besar terhadap dunia nulis, gue juga suka banget yang namanya Multimedia. Lewat multimedia inilah gue bisa bebas berekspresi dan enjoy menikmati layanan teknologi di modernisasi seperti saat ini. And then, say something about this picture :D





Nothing



Disini aku mengukir mimpi
Mencoret satu demi satu mimpi yang tertulis
Berganti, kehidupan baru yang ku alami
Ku tinggalkan jejak pasti
Untuk kehidupan,
Dan masa depan.

Mengejar asa yang selama ini menjadi bagian hari hariku
Berlari menuju arah dan jalan
Dimana cahaya itu terbit
Disana, di timur sana
Aku menggantungkan mimpi dalam kehidupan.

Di kampus hijau IPB di kampus rakyat itu
Bersama ribuan sang pemimpi
Bahkan jutaan!
Kemanapun kami melangkah,
Disanalah jejak langkah tertinggal

Bersama hempasan,
Bahkan terjangan badai lalu.
Ketika itulah kami menyadari,
Arti perwujudan mimpi

Kami Untuk Pertanian Indonesia




Pertanian, di zaman anak muda saat ini, mendengar namanya saja mungkin sudah enggan. Kuno, jadul, ketinggalan zaman, gak modern, gak gaul, ah udahlah kelaut aja! Ya, tak bisa dipungkiri memang, bahwasanya pertanian mempunyai arti seperti itu dikalangan anak muda seperti saya ini. Yang terlintas dalam benak, pertanian adalah mengenai persawahan, lumpur, padi, cangkul, petani bahkan kotor dan kumuh. Lalu, apakah salah berpikiran seperti itu?

Tidak salah, tak ada salahnya mempunyai pemikiran seperti itu. Karena kenyataannya, pertanian tak lepas dari seorang petani tentunya. Tak jauh dari persawahan, bertemu dengan lumpur yang bau setiap harinya, bercocok tanam padi salah satunya, berteman akrab dengan cangkul, dan para petani memang selalu terlihat kotor bahkan kumuh. Itulah petani.

Tapi jauh dari semua itu, terdapat beberapa hal yang lebih penting dan berharga. Tentang tetesan petani ditengah terik sang mentari, tentang keikhlasan dan ketulusan, tentang kerjakeras tiada henti, tentang keluhan yang tak pernah tersirat. Jika kita ulas tentang jasa – jasa seorang petani, tentu tak akan pernah ada akhirnya.

Salah satu hasil pertanian adalah beras. Beras yang pada hakikatnya adalah makanan pokok rakyat Indonesia. Tapi, petani tidak harus bercocok tanam padi untuk kita makan biji beras yang berupa nasi setiap harinya. Banyak sekali hasil – hasil pertanian yang kita konsumsi dan banyak sekali manfaat dikehidupan sehari – hari. Seperti buah – buahan, umbi – umbian, tanaman hias, dan masih banyak lagi hasil pertnaian baik pangan maupun non pangan. Karena pertanian secara umum adalah semua kegiatan manusia yang meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Jadi, alangkah baiknya jika kita membuka mata dan menyadari bahwa pertanian bukan hanya sekedar sawah, melainkan banyak sekali bentuk – bentuk pertanian. Diantaranya adalah ladang, perkebunan, tegalan dan bahkan pekarangan rumah.

Namun dizaman serba modern seperti sekarang ini, nasib petani seolah tak diperhatikan. Banyak petani yang miskin, melarat, susah bahkan kelaparan. Kelaparan? Ya, di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan, ibu-ibu menjual anak-anak untuk makan, bahkan ibu-ibu memakan anaknya sendiri. Astaghfirullah
Kita sebagai generasi muda penerus bangsa, apakah tega membiarkan hal seperti itu terulang kembali?
Ketidakadilan dan ketidakberpihakkan pemerintah Indonesia terhadap nasib para petani sungguh sangat disayangkan. Para petani yang mempunyai jasa – jasa besar terhadap kehidupan bangsa seolah tak dianggap. Indonesia sebagai daerah agraria dengan berbagai kekayaan alam yang melimpah tentunya produktivitas sektor pertanian dapat dijadikan produk unggulan. Tapi sepertinya itu hanya sebuah slogan semata. Memprihatinkan.
Betapa tidak, di dalam usulan anggaran pada sektor pertanian yang diajukan Pemda Rejong Lebong kepada DPRD terhadap Rancangan Anggaran Belanja Daerah (RABD) tahun 2012 hanya Rp. 81 juta. Sementara bagi para PNS dan anggota Dewan dalam item anggaran uang makan dan minum mereka dianggarkan masing – masing Rp. 2,9 M dan Rp. 800 juta pertahun. Inikah potret keberpihakan pemerintah terhadap para petani Indonesia?

Adakah seorang yang mampu merubah semua ini? Memperhatikan nasib para petani dan mensejahterakan rakyat Indonesia dengan kekayaan alam yang begitu melimpah. Dimanakah mereka yang berkuasa?
Hingga tak ada lagi petani yang miskin, tak ada lagi petani yang melarat, tak ada lagi kelaparan dan kekurangan gizi. Hanya itulah harapan mereka, rakyat kecil yang tak dipedulikan. Ditengah kehidupan serba modern, diantara maraknya globalisasi. Keberpihakan dan keadilan terhadap mereka yang meneteskan keringat tiada henti, berpayungkan langit biru ditengah terik sang mentari dan diantara ribuan bahkan jutaan harapan yang kadang tak pasti. Tak perlu menunggu hari esok! Saat ini dan detik ini. Dengarlah mereka yang berjuang, harapan petani.

Berangkat dari berbagai daerah, macam suku, budaya dan tradisi. Berkumpul dan bercengkerama ditengah hirup pikuk kemilau gaya hidup modern. Kami datang dengan membawa semangat perubahan. Di kampus rakyat, bumi kebanggan Institut Pertanian Bogor. Generasi berkarya, membawa harapan baru untuk nasib para petani dan rakyat Indonesia. Menggenggam sebuah mimpi dan misi besar, semangat berprestasi penuh karya. Kami, untuk Pertanian Indonesia!

Tugas MPKMB 49 :)